Sabtu, 12 November 2016

NAFSU AL-MUTHMA’INNAH



Apabila nafsu tenang kepada Allah Aza wa Jala, tenang dengan mengingat-Nya, berserah diri kepada-Nya, rindu berjumpa dengan-Nya, dan senang karena dekat dengan-Nya, ia dinamakan Nafsu Muthma’innah.
Ibnu Abbas Radhiallahu anhu berkata,”Al Muthma’innah artinya yang membenarkan.”
Qatadah Radhiallahu anhu menuturkan,”Orang mukmin ialah orang yang jiwanya tenang kepada apa yang dijanjikan Allah.”
Pemilik nafsu ini dalam hal cara mengetahui asma Allah Aza wa Jala dan sifat-sifat-Nya selalu merasa tenang dengan pemberitaan dari-Nya dan dari Rasul-Nya Shalallahu alaihiwassalam tentang diri-Nya. Kemudian ia juga merasa tenang dengan pemberitaan-Nya mengenai apa yang akan terjadi setelah kematiannya, yaitu berupa urusan-urusan alam barzakh dan peristiwa yang mengiringinya. Misalnya, huru-hara kiamat, hingga seolah-olah menyaksikannya dengan jelas.
Lantas, ia tenang terhadap ketetapan Allah Aza wa Jala. Sehingga ia pun pasrah dan ridha dengan ketetapan-Nya, tidak marah, tidak mengadu, dan merusak keimanannya. Karena itu, ia tidak berputus asa terhadap apa yang tidak ia peroleh dan tidak terlalu senang terhadap apa yang telah diberikan kepadanya.
Sebab musibah yang menimpa tersebut, sudah ditentukan sebelum ia menimpa dirinya. Bahkan sebelum ia diciptakan. Allah Aza wa Jala berfirman :
“tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun : 11)
Lebih dari satu ulama salaf mengatakan,”ia seorang hamba yang bila ditimpa musibah, ia tahu musibah tersebut datangnya dari Allah, sehingga, orang tersebut ridha dan menerimanya.
Ada pun tenang kepada kebaikan ialah ketenangan dalam melaksanakan, ikhlas dan berbuat baik terhadap perintah-Nya. Sehingga ia tidak mendahulukan kehendak hawa nafsu tahu adat istiadat diatas perintah-Nya. Selain itu ia juga tidak akan condong pada syubhat yang bertentangan dengan pemberitaan dari-Nya dan mengikuti syahwat yang bertentangan dengan perintah-Nya.
Bahkan, bila ia menemui syubhat dan syahwat, ia akan dudukkan pada wilayah was-was. Yang seandainya ia jatuh dari dari langit ke bumi, hal itu lebih ia sukai daripada ia mendapatinya. Ini sebagaimana sabda Nabi Shalallahu alaihiwassalam,”Kejelasan iman.”* Selain itu ia juga tenang menghindari keinginan bermaksiat serta mengalihkannya menuju ketenangan dan menuju kenikmatan taubat.
Jika jiwa telah tentram dari perasaan ragu menuju yakin, dari kebodohan menuju ilmu, dari kelalaian menuju zikir, dari khianat menuju taubat, dari riya’ menuju ikhlas, dari kebohongan menuju kejujuran, dari kelemahan menuju keluwesan, dari kekuatan ujub menuju hinanya kerendahan, dari kesombongan menuju kerendahan diri, saat itulah ia meraih nafsu muthma’innah.
Pangkal dari semua itu ialah kesadaran (Al-Yaqdhah) yang menghilangkan kelalaian dari hatinya, dan istana-istana surga menyinari dirinya. Lantas ia menyeru :
“ingat wahai nafsu, ingat bantulah aku
Dengan usahamu dalam gelapnya malam
Agar pada hari kiamat kelak kau beruntung
Dengan kehidupan yang baik pada saat-saat susah tersebut”
Lalu ia melihat dalam cahaya kesadaran apa yang telah diciptakan untuknya dan apa yang akan ia jumpai kelak sejak kematian hingga memasuki negeri abadi. Dalam cahaya kesadaran tersebut, ia juga melihat betapa cepat dunia ini berakhir, sedikit kesempatan untuk membangunnya, terbunuhnya orang-orang yang merindukan, dan memburunya ialah pelajaran.
Kemudian ia bangkit dalam cahaya tersebut atas arah azamnya, sembari berkata,”….Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan kewajiban terhadap Allah..” (Az-Zumar : 56)
Lalu ia menyiapkan sisa-sisa usia untuk mengejar kembali semua yang terlewatkan. Ia mengaktifkan apa yang ia pasifkan, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang lalu dengan memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin, yang jika ia terlambat, hilanglah semua kebaikan.
Kemudian, di dalam cahaya kesadaran tersebut, ia memperhatikan nikmat Rabb-nya. Ia melihat dirinya tidak mampu mencegah dan menghitungnya, tidak mampu memenuhi hak nikmat (bersyukur). Dalam cahaya kesadaran tersebut, ia melihat aib-aibnya sendirinya dan keburukan-keburukan amalnya, kejahatannya dan keburukannya, pelanggarannya terhadap hal-hal yang diharamkan, serta acuh dalam memenuhi hak dan kewajiban.
Dengan begitu, jiwanya menjadi ingat dan anggota tubuhnya menjadi tunduk. Ia berjalan menuju Allah seraya menundukkan kepala karena menyaksikan nikmat-nikmat-Nya serta melihat kejahatan dan aib-aibnya.
Dalam cahaya kesadaran tersebut, ia juga melihat kemuliaan dan urgensi waktu yang dimilikinya. Waktu ialah modal kebahagiaannya. Sehingga, ia menjadi kikir dalam menggunakannya untuk selain hal yang bisa mendekatkan diri kepada Rabb-nya. Karena, menyia-nyiakan waktu merupakan kerugian besar yang akan disusul penyesalan. Namun dengan memeliharanya, hal itu merupakan keberuntungan dan kebahagiaan.
Inilah dampak positif dan negatif kesadaran. Ia adalah titik tolak perjalanan nafsu muthma’innah menuju Allah dan akhirat.
*HR.Muslim : II/153, Al khaman, teksnya dari abu hurairah, ia berkata, “Nabi pernah didatangi oleh para shahabat beliau, lalu mereka bertanya,”kami menemukan di dalam diri kami sesuatu yang oleh salah seorang dari kami dianggap penting untuk dibicarakan, beliau bertaanya,”Apakah kalian sudah mendapatkan hal itu? Seorang shahabat menjawab,’’ Ya’’, Beliau bersabda, ‘’itulah kejelasan iman.’’
(Dr. Ahmad Farid, Taskiyatun Nafs, Ummul Qura, 2014;105-107)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar